Home » » Pentingnya belajar mejejaitan bagi remaja putri bali

Pentingnya belajar mejejaitan bagi remaja putri bali


Mejejaitan di Bali berhubungan erat dengan upacara keagamaan yang sering digelar di Bali, dalam pembuatan sarana upacara yadnya yang dominan dibuat dari busung (janur), kalau kita perhatikan hampir setiap hari terutama para kaum Ibu mempersembahkan upacara yandnya atau perembahyangan.
Orang-orang terkadang berpikiran semakin simple saja, pada saat upacara-upacara tertentu seperti saat Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon yang datangnya setiap 15 hari sekali dalam sebulan, lain lagi hari suci lainnya yang sering diperingati oleh umat Hindu sebagai persembahyangan kepada Tuhan Tang Maha Esa, dengan manifestasi yang berbeda-beda, mereka cukup membeli ke pasar-pasar tradisional yang bisa ditemukan dengan mudah.
Fenomena ini akan menyebabkan semakin pudarnya kemampuan remaja putri Bali untuk memiliki kemampuan membuat banten. Usaha yang bagus juga dari instansi pendidikan terutama dari sekolah, mengajarkan membuat sarana banten dari kecil, nah peran aktif orang tua sangat diharapkan untuk mendukung semua ini, karena keperluan bebantenan yang paling banyak adalah di rumah.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, secara otomatis kita tidak melakukan pembelajaran kepada anak-anak kita terutama remaja putri, pikiran yang praktis dan simpel membuat mereka akan tidak paham, bahkan tidak mengenal apa itu mejejaitan, ini sangat disayangkan, terus ini salah siapa? Kalau semua seperti ini siapa generasi penerus yang akan melanjutkan kebudayaan ini?
Peradaban boleh saja berubah dengan transisi jaman yang terus menggelinding, tapi kepercayaan beragama, budaya, adat dan tradisi haruslah tetap ajeg. Realita seperti ini sangat sering kita temukan di wilayah perkotaan, ada orang yang sudah berkeluarga tidak bisa membuat banten dan lebih sering mereka membeli secara praktis di pasar tradisional. Parahnya lagi sekarang sudah banyak ditemukan pedagang banten yang bukan asli penduduk Bali, tetapi penduduk pendatang. Masak dalam hal membuat banten juga kita dikalahkan oleh penduduk pendatang? Kalau terus seperti ini Bagaimana nasib budaya Bali selanjutnya?
Disamping itu juga Bagi remaja putri, pada saatnya nanti menikah, ada kemungkinan akan merasakan suatu rasa kecil hati (minder) di saat tempat rumah suami nanti, sang mertua pintar mejejaitan sedangkan sebagai menantu tidak bisa. Untuk itu budaya ini jangan dihilangkan. Karena mejejaitan itu seperti sebuah terapi pikiran, pada saat pembuatan jejaitan yang berisi goresa-goresan pada janur, kita harus berkonsentrasi, agar apa yang kita buat bisa tampil bagus, benar dan mempunyai nilai seni. Secara tidak langsung pikiran kita terpusat kepada satu objek, yaitu benda di tangan kita, tidak ada pikiran lain, keruwetan masalah sirna saat itu, seperti sebuah meditasi yang bisa menenangkan pikiran, apalagi kita buat untuk sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.
Dalam aktifitas mejejaitan bersama keluarga, ada konsep kebersamaan, duduk bersama, selain orang tua bisa lebih dekat berkomunikasi dengan anak, merekatkan hubungan keluarga, mengajarkan mereka nantinya bersosialisasi saat ada upacara keagamaan, karena di Bali dikenal dengan gotong royong (ngoopin) ke rumah tetangga atau di banjar. Ada perasaan bangga dan suatu kelebihan jika anak-anak remaja bisa mejejahitan. Sehingga sedikitnya kita bisa mendukung ajeg Bali yang kita dengung-dengungkan. Ajeg Bali ini akan tetap menjaga citra Bali yang tetap berakar kepada kearifan lokal, budaya dan tradisi, sehingga tidak terpangaruh dengan perkembangan negatif dari wisata Bali yang mungkin dibawa orang asing.
Walaupun memang kita akui pada saat-saat keperluan upacara tertentu kita harus membeli banten, karena kemampuan kita tidak mencukupi, tapi toh itu tidak sering. Yang terpenting rutinitas kita sebagai warga hindu yang identik dengan mejejaitan agar terus bisa ajeg. Janganlah semua dengan harta materi bisa dibuat praktis, pikirkan juga nilai positif dan negatifnya.

0 komentar:

Post a Comment