Home » » Cara Menanam Ari-ari

Cara Menanam Ari-ari



Pelaksanaan upacara bagi bayi yang baru lahir salah satu maknanya adalah sebagai ungkapan rasa gembira dan syukur atas lahirnya si bayi ke dunia. Upakara-upakara yang dipergunakan disebut dengan Dapetan. Upakara dapetan ini terdiri dari beberapa bagian yang disesuaikan dengan tingkatan upacaranya, yaitu:
*Tingkatan Kecil
Upakaranya: nasi muncuk kuskusan, dilengkapi dengan buah-buahan (raka-raka), rerasmen (kacang, saur, garam, sambel dan ikan), sampian jaet, dan canang sari/canang genten, serta sebuah penyeneng. Upakara ini dihaturkan kepada Sang Dumadi.
*Tingkatan Yang Lebih Besar
Upakaranya : sama seperti di atas hanya saja dilengkapi lagi dengan jerimpen di wakul yaitu sebuah wakul yang berisi sebuah tumpeng lengkap dengan raka-raka, rerasmen dan sampian jaet.
A. Persiapan Sebelum Memulai Menanam Ari-Ari :
1. Air kumkuman secukupnya
2. Boreh gading ( dibuat dari beras dan bangle )
3. Kelapa muda dan dibelah dua, dan ditulis dengan rerajahan, bagian atas atau penutup dengan “ Ongkara “ dan bagian bawah dirajah dengan tulisan “Ahkara “.
4. Serabut ijuk
5. Daun lontar ditulis aksara dasa bayu dengan huruf Bali, bila lelaki tulis “ong ong ah ah 3x” dan bila perempuan tulis “ong ong ung ung 3x”.
5. Sebuah ngad dengan panjang 5 cm
6. Batu bulitan atau batu hitam dengan diameter 15 – 20 cm
7. Pohon pandan
8. Sanggah tutuan beratap ijuk atau kelopak bambu
9. Air bersih
10. Sebuah kwangen berisi uang bolong 11 kepeng
11. Duri-duri, isin ceraken, anget-anget, dan wangi-wangian
B. Perawatan Terhadap Ari-Ari :
1. Saat bayi lahir maka ada upacara khusus yang harus dilakukan untuk mendem ari – ari si bayi. Saat si ibu dalam proses bersalin maka disiapkan sebuah periuk tanah yang berisis tutup yang mana jika bayi sudah lahir maka ari -arinya dimasukan ke dalam periuk tersebut dan dibawa pulang. Sesampai di rumah maka oleh ayah si anak ari – ari diletakan di dalam baskom / ember baru yang setelah itu alat tersebut tidak boleh dipakai lagi. Lalu ari – ari tersebut di cuci dengan air. Sang ayah harus membersihkan ari – ari dengan bersih dengan menggunakan kedua tangan, tanpa perasaan jijik dan dilakukan dengan perasaan penuh syukur dan kasih sayang. Setelah bersih lalu di bilas dengan air kumkuman (air bunga).
2. Siapkan sebuah kelapa ukuran besar yang masih lengkap dengan kulitnya, lalu dipotong dan dikeluarkan airnya. Ari-ari atau plasenta setelah itu dibersihkan kemudian dimasukan ke dalam buah kelapa yang sebelumnya sudah dibelah menjadi dua bagian yang airnya juga telah dibuang. Bagian atas kelapa itu diisi tulisan “Ongkara”. Sedangkan pada bagian bawah kelapa tersebut diisi tulisan “Ahkara”.
3. Setelah itu, ke dalam kelapa tadi dimasukan beberapa jenis duri terung, mawar dan sebagainya. Selain duri ada bebarapa lagi yang dimasukan yaitu sirih lekesan selengkapnya. Setelah itu kedua belahan kelapa tadi dicakupkan dibungkus dengan ijuk dan kain putih kemudian dipendamkan. Kalau seandainya kesulitan dalam mencari ijuk, penggunaan kain putih saja diperbolehkan.
4. Tempat memendamnya adalah sesuai dengan jenis kelamin si bayi. Kalau si bayi laki-laki maka dipendam disebelah kanan pintu balai, sedangkan kala bayinya perempuan maka ari-arinya dipendam di sebelah kiri pintu balai (dilihat dari dalam rumah).
C. Cara Menanam Ari-Ari
Nyalakan dupa untuk memohon perlindungan dan amertha ke hadapan Sang Hyang Ibu Pertiwi dengan mantra :
“Om ang sri basunari jiwa mertha, trepti paripurna ye namah suaha”
Ucapan saa:
Pukulun Sang Hyang Ibu Pertiwi, pinakengulun aminta sih, ingsun angengkap pertiwi, ngulati amendem ari-ari, tan kenang sira keletehan, rinaksanan denira Sang Catur Sanak, manadi pageh uripe di jabang bayi, Om sidhi rastu yenamah swaha
Setelah mengucapkan mantra diatas barulah membuat lubang, selanjutnya ari-ari dicuci dengan air biasa sampai bersih, sesudah itu diusapi dengan boreh gading sampai rata, kemudian dibilas dengan air kumkuman agar bersih. Semua air pencucinya di masukkan kelubang tersebut.
Ari-ari dimasukkan kedalam kelapa yang dibelah menjadi dua dan disi ngad, lontar yang telah ditulisi diatas, kewangen yang berisi uang bolong 11 kepeng, duri-duri, isin ceraken, anget-anget, dan wangi-wangian dibungkus dengan serabut ijuk, serta diluar ijuk dibungkus dengan kain putih, dibuat simpul diatasnya, dan dipasangkan kwangen diatasnya.
Masukkan ari-ari kedalam lubang atau bangbang dengan muka kwangen kearah halaman rumah. Sambil meletakkan didalam lubang ucapkan mantra dalam hati :
“Om presadha stiti sarisa sudha ya namah“
Ucapan saa:
“Ong sang ibu pertiwi rumaga bayu, rumaga amertha sanjiwani, ngamertanin sarwa tumuwuh, ( nama bayi ) mangda dirgayusa nutugang tuwuh”
artinya: Om Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai pertiwi, penguasa segala kekuatan, penguasa kehidupan menghidupi segala yang lahir/ tumbuh, si anu (nama si bayi) semoga panjang umur.
Tata letak pembuatan lubang memiliki etika yang berbeda antara bayi wanita dengan bayi laki-laki. Kalau bayi laki-laki ditanam dibagian kanan pintu rumah dari kita menghadap ke halaman rumah, sedangkan bagi bayi perempun dibagian kiri.
Setelah ditanam diatasnya ditanami pohon pandan dan batang kantawali, sebatang buluh guna memasukkan air nantinya ke ari-ari tersebut kemudian diletakkan sebuah batu hitam atau batu bulitan.
Diatas batu diletakkan sebuah lampu Bali yang telah menyala dan dibiarkan tetap menyala sampai bayi kepus pusar, kemudian ditutup dengan sangkar ayam.
Dibagian hulu dari ari-ari ditanam ditancapkan sebuah sanggah tutuan dihiasi dengan bunga merah, lengkap berisi sampian, gantung-gantungan, sebagai stana Sanghyang Maha Yoni.
Suguhkan segehan beralaskan daun taru sakti (dapdap) pada ari-ari sebanyak empat tanding antara lain :
-kepelan putih satu tanding, lauknya garam menghadap ke timur
-kepelan merah (bang) satu tanding, dengan lauk bawang menghadap ke selatan
-kepelan kuning satu tanding, lauk jahe menghadap ke barat
-kepelan hitam (ireng) satu tanding, lauk uyah areng menghadap ke utara
ucapan:
“ong sang butha preta, empu semeton jrone sang rare, mangde pageh angemit”
Kemudian percikkan tetabuhan berem dan arak
Kepelan putih satu tanding dengan sedikit garam, dihaturkan di sanggah kemara (diatas tempat tidur bayi).
lakukan ritual menghaturkan segehan ini setiap rahinan jagat, kliwon serta petemuan dina kelahiran bayi.
Selanjutnya setiap hari diatas batu bulitan atau batu hitam disajikan banten nasi segenggam diatas daun dapdap dengan lauk garam dan arang. Setiap selesai memandikan bayi, siramkan air memandikan bayi tersebut di batu hitam tersebut.
Menghaturkan soda putih kuning, canang sari pada sanggah tutuan, dengan ucapan :
“Om pakulun paduka Sang Hyang Maha Yoni maka dewaning rare astana ring pelantaran, penyawangan, pinakengulun sang adruwe jabang bayi anganturaken bhakti seprakaraning penek putih kuning, maduluran kesuma, pinakengulun aminta nugeraha, kemit rareningulun rahina kelawan wengi, anulak sarwa ala, sakwehing joti maetmahan jati, Ang…Ah amertha sanjiwani ye namah swaha”
Menghaturkan soda pada pelinggih kemulan, dengan tujuan memohon tirtha pasucian kehadapan Hyang Guru dengan mantra :
“Om guru rupam sadadnyanam, guru pantharanam dewam, guru nama japet sadha, nasti-nasti, dine-dine, Om gung guru paduke byonamah swaha”
Ucapan saa:
“Om pakulun paduka Bhatara Hyang Guru mami angaturaken tadah saji pawitra, aminta nugraha Bhatara tirtha pengelukatan pebersihan, nggenlumulangaken keletehan sariran ipun dijabang bayi, kelukat, kelebur de paduka Bhatara matemahan sarira sudha nirmala yenamah, Om sidhi rastu yenamah swaha“
Tirtha pasucian dipercikkan ketempat sanggah tutuan dan tempat ari-ari, banten buwu, serta dapetan. Selanjutnya bayi dan ibunya diperciki tirtha buwu dan ayabang banten dapetan.
D. Makna dan Tujuan
Maknan dan tujuan yang terkandung pada upacara saat bayi baru lahir yaitu :
Ari-ari, merupakan bagian dari kehidupan sang bayi yang merupakan personifikasi dari Sang Catur Sanak, yaitu :
1. Sang anta Preta merupakan sebutan dari air ketuban atu yeh nyom sebagai personifikasi saudara tertua dari sang bayi karena air ketuban sebagai pengantar bayi lahir ke dunia.
2. Sang Kala merupakan sebutan darah yg keluar pada saat melahirkan sebagai sumber energi dari bayi sehingga bayi bisa bergerak aktif untuk keluar dari perut Ibu
3. Sang Bhuta merupakan sebutan untuk selaput ari atau lamas yang membungkus tubuh bayi, berguna sebagai penetralisir suhu udara sebelum lahir maupun saat lahir, sehingga suhunya menjadi seimbang dan sekaligus sebagai sarana pelican saat bayi lahir.
4. Sang Dengen adalah sebutan untuk ari-ari atau placenta yang ikut lahir. Karena ari-ari sangat berguna sebagai sumber kehidupan bayi dalam kandungan, sebab ari-ari merupakan transformator dan mediator zat-zat makanan dari Ibu kepada bayi dalam pertumbuhannya sekaligus sebagai selimut dalam menjaga stabilitas suhu tubuh bayi terhadap suhu badan si Ibu
– Batu hitam atau batu bulitan
Batu bulitan mengandung makna sebagai permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi agar sang bayi dianugrahi panjang umur.
– Pohon Pandan
Pohon pandan diwujudkan sebagai buaya putih sebagai penjaga bayi terhadap gangguan yang bersifat black magic.
– Lampu Bali
lampu ini berbahan bakar minyak kelapa yang dicampur dengan minyak lampu wayang (tunasin ring jro dalang) serta minyak kelapa (nyuh surya). Lampu Bali yang menyala melambangkan Sanghyang Surya Candra, yaitu memiliki kekuatan Widia, oleh karan itu lampu tersebut ditatabkan atu ayab. Mantra : “Om Ang Ah Surya Candra Gumelar Ye Namah Swaha
– Sangkar Ayam
Sebagai lambang kekuatan maya Sang Hyang Widhi dan sebagai Cakra Jala (batas pandang alam semesta). Bahwa catur sanak merupakan bagian mayanya Sang Hyang Widhi dan merupakan unit kehidupan maya di alam semesta, serta menjadi pelindung bayi
– Sanggah Tutuan
Merupakan simbul dari stananya Sang Hyang Maha Yoni sebagai Dewa pengasuh sang bayi
– Banten Bhuwu
Merupakan banten penyucian terhadap bayi dan ibunya serta lingkungan agar suci dari kecuntakaan atau sebel pada tahap permulaan
– Banten Dapetan
Mengandung makna dan tujuan sebagai penyapa kehadapan roh suci yang baru reinkarnasi menjadi bayi.
E. Upakara
1. Merajaan Daksina, peras, soda, ketipat kelanan atau banten soda.
2. Ayaban untuk Ibu dan bayi: Banten dapetan asoroh, Banten ajuman putih kuning
3. Upakara penyucian: Banten bhuwu asoroh
4. Upakara di sanggah tutuan: Soda putih kuning, Canang burat wangi, Cangang lenga wangi,
5. Untuk di ari-ari: Segehan kepelan 4 soroh
Demikianlah perawatan terhadap ari-ari dianggap selesai dan setiap ada upacara yang ditujukan pada si bayi, hendaknya ari-arinya jangan dilupakan. Disamping itu perlu kiranya dikemukan bahwa bila keadaanya tidak memungkinkan/ tidak mengijinkan maka ada kalanya ari-ari itu dibungkus dengan kelapa seperti tadi kemudian dibuang dilaut.
sumber : (berbagai sumber)
Demikian yang dapat disampaikan apabila ada kekeliruan memohon kritik dan sarannya dan mari diluruskan secara bersama agar sesuai dengan sastra agama. 

0 komentar:

Post a Comment